Tampilkan postingan dengan label Tafakkur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafakkur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 November 2009

cerita tentang Keajaiban sholat dhuha dan surat yasiin

Saya Anna, dulu hidup saya sangat memperhatinkan aku bekerja di perusahaan swasta, suamiku cuma guru swasta biasa yang penghasilannya tak seberapa, aku punya satu putri. Karena penghasilanku lebih dari suami jadi akulah yang berperan dalam mencukupi kehidupan kami. Tapi itu semua tidaklah cukup karena lebih besar pengeluaran dari pada pemasukan, akhirnya aku terjebak pada rentenir, tagihan kartu kredit yang terpaksa aku pakai, belum lagi kredit motor dan masih banyak kebutuhan yang aku harus penuhi. Tapi yang aku kecewa suamiku tak mau tahu
apa yang aku lakukan, kami sering bertengkar sampai hampir bercerai hanya karena uang, karena aku tidak sanggup untuk membayar semua tagihan tersebut mulailah satu persatu collector datang baik ke kantor bahkan kerumah, sampai ancaman2 aku terima. Hutangku disana sini, pikiranku buntu kemana aku harus mencari tambahan, aku sudah sangat malu pada orang disekelilingku. Aku sempat mendatangi beberapa paranormal untuk menuntaskan masalahku tapi bukan jalan keluar yang aku dapatkan malah uangku yang habis percuma. Sampai aku menonton acara Ustadz Mansyur \”Keajaiban Bersedekah\” di salah satu TV Swasta, terbukalah mata hatiku, aku menangis sejadi jadinya kenapa aku lupa dengan Allah sang maha pencipta segalanya. Sejak itu aku sering melakukan sedekah, sholat Dhuha dan membaca Surat Yasiin, aku serahkan segalanya pada Tuhan dan aku yakin Tuhan tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan umatnya. Tapi rupanya Tuhan masih mengujiku doaku belum dikabulkan malah bertambah parah cobaan yang dia berikan, caci maki, hinaan aku terima sampai aku dilaporkan ke pihak yang berwajib. Aku putus asa lagi, dimana Tuhan pada saat aku membutuhkannya, suamikupun tak bisa berbuat banyak malah dia menyalahkan atas semua perbuatanku, aku benar2 putus asa (aku dan suamiku memang sering bertengkar dan kami kurang akur). Sempat dipikiranku ingin bunuh diri atau menjadi wanita penghibur saja dan itu selalu ada dipikiranku, aku tinggalkan Tuhan karena aku tidak percaya Dia lagi, tidak ada seorangpun yang dapat membantuku malah keluargaku mencelaku,hanya ibuku yang perduli tapi diapun tidak bisa berbuat apa2. Saat tengah malam aku terbangun, dipikiranku aku ingin mengakhiri hidupku, pisau telah kupersiapkan dan pada saat aku ingin melakukannya aku lihat anakku yang tertidur pulas, aku langsung menangis apa yang telah aku lakukan, aku akan meninggalkannya…… Aku tersadar lalu aku langsung mengambil air wudhu dan sholat Tahhajud, pikiranku menjadi tenang. Aku harus hadapi semua ini dan aku yakin pasti ada jalan keluarnya. Kurang lebih satu tahun aku di berikan Tuhan cobaan ini. Hari demi hari aku lalui dengan kesedihan dan penderitaan, tapi setiap hari aku lakukan sholat Dhuha dan membaca surat Yasiin malah setiap ada kesempatan aku baca, itu semua aku lakukan terus dan terus menerus. Aku juga masih mendoakan suamiku agar diberi pekerjaan yang lebih baik dan rumah tanggaku kembali. Ya Allah…………ternyata Engkau tidak tidur, Engkau ada, Engkau dengar doaku. Suamiku diterima disebuah perusahaan yang cukup terkenal di Palembang dan kehidupanku mulai agak membaik tetapi ternyata itu membawa masalah baru, suamiku mulai bertingkah dengan melirik wanita lain, Tuhan………… cobaan apalagi yang Engakau berikan padaku belum selesai semua permasalahanku sudah Engkau tambah lagi, tapi dengan semua kejadian ini aku semakin dekat dengan Tuhan. Aku berdoa memohon agar aku diberikan jalan keluar atas masalahku dan diberikan pekerjaan yang lebih baik dan sempat aku berdoa agar aku dipertemukan dengan orang yang bisa mengerti aku karena aku sudah tidak cocok lagi dengan suamiku. Bulan Ramadhan 1428 H adalah bulan anugrah bagiku, akhirnya aku diterima bekerja disebuah Perusahaan Asing dengan Jabatan dan Penghasilan yang lumayan dan malah sekarang aku bisa membantu keluargaku yang semula mencelaku dan aku juga dipertemukan dengan orang yang aku harapkan walaupun muncul masalah baru lagi tapi aku percaya Tuhan ada dan akan selalu ada di hatiku, Dia tidak tidur, Dia maha tahu segalanya. Sampai sekarang aku selalu mengamalkan dan menjalankan sholat Dhuha dan membaca Surat Yasiin dan juga tidak lupa untuk selalu bersedekah. Semua permasalahanku aku serahkan pada Tuhan karena Dia tahu yang terbaik bagiku, rumah tanggaku, jodohku dan rejekiku.

Azizah Nurul Aini

Selengkapnya....

Minggu, 15 November 2009

URGENSITAS PENYEIMBANG

Seimbang, berimbang, adalah satu kata yang artinya hampir menyerupai kata adil dalam arti tidak berat sebelah maupun sama. Dalam kamus peristilahan norma-norma Islam, kita mengenal kata tawazun dalam arti yang sama, sekaligus lebih mewakili bila dibandingkan dengan istilah lainnya.


Tawazun adalah satu sikap yang semestinya dimiliki oleh setiap insan dalam melakukan berbagai hal dan beraktifitas. Karena, sejauh kita mengenal islam, hanya Islamlah satu-satunya agama yang memiliki prinsip ini. Baik dalam aktifitas ruhani maupun jasmani. Salah satu bukti wujud prinsip ini dalam Islam adalah banyaknya kita temukan pesan –pesan agama yang tertuang dalam bentuk peribahasa. Seperti, kun fursanan bi an-nahar wa ruhbanan bi al-lail yang artinya jadilah penunggang kuda (pencari rezeki) di siang hari, tapi jangan lupa untuk menjadi Rahib (ahli ibadah) di malam hari. Pepatah ini bertujuan membimbing kita untuk selalu berusaha mencari dan memenuhi kebutuhan duniawi, tapi ingat, harus diimbangi dengan usaha untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi.

Wujud lain yang menguatkan kepada kita bahwa tawazun merupakan kebutuhan, dapat kita rasakan dalam hal masak-memasak. Ketika seseorang memasak, setelah menaburi garam ia juga akan menaburi gula dalam kadar secukupnya, begitu juga sebaliknya. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan rasa asin maupun manis pada masakan tersebut, sehingga rasa asin atau manisnya stabil dan tidak berlebihan. Jadi, dari uraian diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa sebagian fungsi penyeimbang adalah untuk menstabilkan.

Demikian pula dalam berinteraksi, kita perlu memiliki sikap seperti gula atau garam diatas. Hal ini berdasarkan fenomena bahwa segala macam bentuk interaksi seperti persahabatan, group-group olah raga, musik, pecinta alam maupun berbagai club study tidak akan terjamin kelanggengannya bila interaksi ini berjalan tanpa diiringi sikap saling mengimbangi. Namun, perlu diketahui bahwa sikap ini akan sulit terwujud bila yang bersangkutan belum saling mengenal dan memahami.

Sekarang, yang menjadi permasalahan, apa standar yang akan kita jadikan tolak ukur dalam mengukur kadar suatu penyeimbang? Hal-hal seperti ini kelihatannya amat sepele, namun, terkadang, tanpa disadari, ia telah dan akan menggerogoti sebagian besar bentuk interaksi yang kita jalin. Seorang yang meyakini bahwa kehidupan ini bukanlah semata-mata untuk diri sendiri, melainkan ia hanyalah bagian dari kehidupan lainnya, tentu akan berusaha melakukan berbagai hal demi tercapainya jalinan harmonis antar sesama makhluk disekitarnya maupun diseluruh jagad raya. Karena ia sadar, bahwa kebahagiaan hidupnya memiliki keterkaitan dengan kebahagiaan orang-orang disekitarnya. Tidaklah dikatakan seseorang bahagia dengan kenikmatan dan menikmati apa yang ada pada dirinya. Jiwanya akan berontak dan tidak akan tenang selama hak-haknya tidak terpenuhi. Karena pada hakikatnya, suatu jiwa memiliki keterkaitan dan ketergantungan dengan jiwa-jiwa lainnya yang sesuai dengannya. Untuk itulah, pemilik jiwa tersebut perlu mencari jiwa-jiwa yang lain itu, demi memenuhi kebutuhan jiwanya.

Dalam diri kita terdapat berbagai macam wasa’il yang dapat kita gunakan dalam memenuhi hal-hal diatas. Diantaranya, manusia memiliki perasaan, yang dengannya kita dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh orang lain. Jadi, hambar dan dan antusiasnya sikap seseorang dapat kita ukur dengan perasaan. Demikian halnya dengan akal yang dengannya manusia dapat mengenal dan menyimpulkan cara-cara beradaptasi dengan lingkungannya. So, alangkah malangnya manusia yang tidak dapat menggunakan wasa’il yang sudah dimilikinya. Coba Anda bayangkan! Apa jadinya dunia ini bila dihuni oleh manusia-manusia yang menomorsatukan egonya sendiri. Sungguh, akan tiada lagi arti kesejatian, kesetiaan, dan keabadiaan. Haruskah kita pertanyakan kembali relevansi “Al-Insan madaniyyun bi at-thoba’I”?

Semoga tulisan ini dapat menggugah kita dan selanjutnya menyadarkan akibat yang akan timbul bila masih banyak diantara manusia yang kurang memahami urgensitas penyeimbang.

M. Ulinnuha











Selengkapnya....