Senin, 09 November 2009

Bagaimana cara shalat qadha dan berapa raka’at?

Shalat adalah kewajiban yang paling utama atas setiap muslim dan tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun, baik sakit maupun dalam kondisi ketakutan yang mencekam karena situasi sedang genting. Apabila seseorang sedang sakit dan tidak mampu berdiri ia diperbolehkan melaksanakan shalat sambil duduk, apabila tidak mampu duduk ia dapat melakukannya sambil berbaring, apabila tidak mampu berbaring ia boleh melakukannya dengan posisi terlentang. Demikian pula dalam perjalanan jarak jauh,
diperbolehkan melakukan shalat dengan cara menjamak dan mengqasharnya atau menggabungkan dua shalat dalam satu waktu dan meringkas jumlah raka’atnya sehingga yang biasanya dilakukan empat raka’at boleh dilakukan hanya dengan dua raka’at saja dengan syarat-syarat tertentu.
Apabila seseorang ketiduran yang sangat nyenyak dan tidak terjaga sama sekali sehingga salah satu waktu shalat atau lebih dari satu waktu terlewatkan ia wajib melaksanakan shalat yang tertinggal itu segera ketika ia terjaga dari tidurnya dengan niat qadha karena shalat yang dilakukan itu sudah keluar dari waktunya.
Demikian pula kalau ia terlupa. Apabila itu dilakukan maka terbebaslah dirinya dari beban kewajiban shalat, semoga Allah menerima shalatnya. Rasulullah bersabda: “Barang siapa tertidur sehingga tidak shalat atau terlupakan maka ia wajib melaksanakan shalatnya ketika ia terjaga atau ketika ia teringat” (Hadits shahih riwayat Tirmidzi). Bagaimana kalau seorang muslim dengan sengaja meninggalkan kewajiban shalatnya? Apabila ia meninggalkan shalat dengan alasan sudah tidak wajib lagi atas dirinya karena dia merasa sudah mencapai tingkat keislaman tertentu maka orang tersebut dihukumkan sebagai orang yang sudah murtad atau keluar dari agama Islam. Semoga Allah melindungi diri kita semua dari kemurtadan. Sedangkan apabila alasan meninggalkannya karena malas atau karena merasa ada kesibukan-kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan atau karena sakit dan sebagainya maka orang seperti itu tidak menjadi murtad akan tetapi menjadi muslim yang fasik.
Kedua macam orang tersebut apabila ia ingin tobat dan kembali ke jalan Allah ia wajib mengganti atau mengqadha semua shalat yang telah ia tinggalkan. Mungkin ia telah meninggalkan shalat selama satu bulan, atau satu tahun atau bahkan lebih sehingga bertahun-tahun ia tidak shalat sama sekali.
Orang seperti itu seharusnya menggunakan seluruh waktu yang ada untuk mengqadha semua shalatnya berapapun jumlahnya dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan apapun kecuali pekerjaan-pekerjaan yang penting yang berkaitan langsung dengan kelangsungan hidupnya. Namun beban seperti itu akan membuat sebagian besar orang yang punya hutang shalat berat untuk melaksanakan qadha shalat sehingga bukan hanya tidak mau mengqadha shalat-shalat yang lalu, bahkan bisa menjadikannya meninggalkan shalat sama sekali.
Berdasarkan pertimbangan seperti di atas dan mengacu kepada landasan hukum syari’at Islam untuk memberikan kemudahan dalam situasi sulit maka pendapat saya untuk mengqadha shalat-shalat yang telah ditinggalkan ialah dengan melakukan shalat-shalat tersebut setelah melaksanakan shalat wajib pada waktunya masing-masing.

Sebagai contoh, seseorang yang telah meninggalkan shalat selama satu tahun dan ingin mengqadhanya maka setiap kali ia selesai malaksanakan shalat seperti zhohor ia berdiri lagi dan melaksanakan shalat zhohor lagi dengan raka’at yang sama tapi dengan niat mengqadhanya, demikian pula shalat ashar, ia lakukan dua kali, yang pertama shalat ashar pada waktunya dan yang kedua shalat ashar untuk qadha.
Demikian pula maghrib, isya’, dan subuh yang harus dilakukan selama satu tahun. Kalau dia melakukan setiap shalat qadhanya dua kali (qadha shalat zhohor dua kali, qadha shalat ashar dua kali demikian pula maghrib, isya’ dan subuh) maka ia butuh waktu enam bulan saja, kalau tiga kali qadha maka ia hanya butuh waktu empat bulan saja, demikian seterusnya.


Assalamu’alaikum. Kalau shalatkan lebih baik berjamaah tapi kalau takut timbul riya pada saat kita berangkat ke masjid bagaimana Pak?

Jawaban:
Timbulnya perasaan takut riya ketika hendak mengerjakan suatu kebaikan itu adalah bisikan setan untuk membuat orang yang bersangkutan mengurungkan niatnya melakukan kebaikan tersebut. Karena setan dengan berbagai cara menggoda manusia untuk tidak melakukan kebaikan dan mendorong mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Pengertian riya itu ialah suatu pekerjaan yang dilakukan karena untuk mengharap pujian dari manusia, atau sengaja memperbaiki perbuatan tersebut karena ada orang yang melihatnya, kalau tidak ada yang melihatnya ia melakukannya secara biasa saja.
Contohnya seseorang yang pergi ke masjid atau ke mushalla untuk shalat berjamaah dia menggunakan pakaian yang berbeda (lebih rapih/bagus) daripada kalau dia shalat sendirian di rumah. Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk berpenampilan yang bagus dan rapih setiap kali akan beribadah kepada-Nya, baik beribadahnya di rumah seorang diri maupun beribadahnya di tengah-tengah orang banyak, karena yang akan dia hadapi adalah Allah baik shalatnya di rumah maupun di masjid/mushalla. Penampilan yang berbeda ketika berjamaah sudah terdapat unsur riya dalam hal berpakaian, tapi mudah-mudahan bukan dalam hal berjamaahnya. Itu hanya contoh kecil saja untuk memudahkan pemahaman kita terhadap riya.


Assalamu’alaikum. Apa do’a agar permintaan kita dikabulkan Allah dan shalat apa yang harus kita lakukan?

Jawaban:
Dalam sebuah hadits shohih riwayat Imam Ahmad bin Hanbal Rasulullah bersabda: “Siapa saja yang melakukan wudhu dengan sebaik-baiknya kemudian ia mendirikan shalat dua raka’at dengan sempurna niscaya Allah akan memberikan kepadanya apa yang dia minta kepada Allah baik secara cepat maupun di kemudian hari”. Itulah anjuran Rasulullah saw untuk melaksanakan shalat hajat ketika ingin menyampaikan hajat dan keinginan kita kepada Allah, baik di siang hari maupun di malam hari. Berdo’anya boleh sebelum memulai shalat dengan bahasa sendiri atau selesai shalat. Bahkan akan lebih baik kalau doanya diungkapkan ketika setiap kali sujud karena posisi sujud adalah posisi yang paling dekat antara hamba dengan Allah swt. Akan tetapi karena di dalam shalat maka berdo’anya di dalam hati saja.

Ada ulama salaf yang mengajarkan bacaan di dalam shalatnya yaitu pada setiap raka’at baca al-Fatihah, kemudian ayat kursi tanpa membaca bismillah, kemudian baca surah al-Ikhlas 11X. Bacaan-bacaan tersebut di baca pada setiap raka’at baik shalatnya dua raka’at atau empat raka’at maupun lebih. Agar lebih cepat lagi do’a itu terkabul iringi shalat hajat tersebut dengan amal-amal soleh yang lain seperti memperbanyak istighfar, membaca Alqur’an secara berurutan dan amal-amal soleh yang bisa dirasakan oleh orang lain seperti sedekah. Terutama bulan Ramadhan yang Allah jadikan sebagai momen mustajab sebagaimana yang Allah firmankan di dalam surah al-Baqarah: 186. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah-Ku] dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Ayat tersebut terletak di antara ayat-ayat yang menjelaskan tentang puasa dan yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. Peletakan ayat tersebut di antara ayat-ayat yang menjelaskan tentang puasa dan Ramadhan memberikan isyarat bahwa berdo’a dan meminta kepada Allah di bulan Ramadhan akan mempercepat dikabulkannya oleh Allah swt.

5 komentar:

  1. waahhh.... qodo'an sholatku berapa ya?????

    BalasHapus
  2. segenap keluarga besar RSI SAKINAH MOJOKERTO telp/sms : +6285648280307 mengucapkan Selamat

    Hari Raya Idul Fitri 1432 H Mohon Maaf Lahir dan Batin

    BalasHapus
  3. asalamualaikum saudara2
    mau tanya
    klo sholat qodhok tu di samain rakaatnya y

    BalasHapus
  4. Niat mengqada solat itu sama aja dengan solat wajib hanya saja kata "adaan" diganti menjadi "qadaan"

    BalasHapus